“Kasus Ujaran Kebencian Terhadap Wartawan”, Zaidan Akui Kesalahan di Hadapan Majelis Hakim

Pesawaran – Dihadapan Majlis Hakim dan para saksi, terdakwa kasus ujaran kebencian terhadap wartawan, Zaidan mengakui kesalahanya serta meminta maaf pada seluruh wartawan yang ada di Kabupaten Pesawaran .

Zidan saat ini sudah menjalani sidang untuk yang ketiga kalinya, kemudian sidang saat ini adalah pemeriksaan terhadap para saksi-saksi.

Dikerahui pula, Zidan telah masuk kategori Dalam Pencarian Orang (DPO), akhirnya Zaidan, yang didakwa atas kasus ujaran kebencian, kini tertangkap dan menjalani persidangan di PN Kelas ll Gedong Tataan pada Selasa (29/11/2022).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ari Saputra mengatakan, sidang yang dilaksanakan pada hari ini dengan agenda pemeriksaan para saksi yang menghadirkan enam orang saksi.

“Lima orang diantaranya merupakan pelapor yang terdiri dari rekan-rekan media dan satu orang lainnya yakni Mantan Ketua LSM GMBI yang merupakan mantan ketua terdakwa,” kata Ari.

Dijelaskan lagi oleh Ari , persidangan yang berlangsung kisaran dua jam tersebut, membuat Terdakwa Zaidan akhirnya mengakui dan menyesali seluruh kesalahannya.

“Sidang berikutnya nanti pekan depan, yang akan dilaksanakan pada hari Selasa (6/12) untuk pemeriksaan ahli,” jelasnya.

Kendati demikian, hingga saat ini dakwaan yang diajukan JPU kepada terdakwa yakni sebanyak empat dakwaan, dua diantaranya UU ITE dan ancaman pidana terberat yakni pada pasal 28 dengan maksimal ancaman enam tahun.

“Akan tetapi kita belum tau, pasal mana yang akan dijeratkan kepada terdakwa, mengingat akan ada sidang-sidang lanjutan lainnya,” katanya.

Sementara itu, Penasehat hukum terdakwa, Yusuf menuturkan, jika persidangan yang baru saja berlangsung merupakan sebuah momen untuk mengklarifikasi adanya miskomunikasi antara pihak LSM GMBI tersebut.

“Karena pada kejadian tersebut ada miskomunikasi antara ketua dengan anggotanya, sehingga apa yang disampaikan tidak sama,” ujar Yusuf.

Dirinya juga mengimbau, agar lembaga LSM maupun lembaga Pers dan lainnya supaya dapat lebih bijak lagi dalam memberikan ungkapan.

“Dipilah pilih dulu, agar ungkapan yang disampaikan tidak berisi SARA atau kebencian sehingga tidak menimbulkan dampak yang buruk,” imbaunya.

Perlu diketahui, persidangan tersebut berlangsung dengan dipimpin oleh Hakim Ketua Saharudin Ramanda, S.H, dan didampingi dua orang hakim anggota yakni Muthia Wulandari, S.H, dan Septina, S.H. (MP)